Ketua MPR Bambang Soesatyo tergiur segarnya anggur hijau Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Anggur tersebut dikembangkan Jogja Anggur, kelompok muda pembudi daya anggur di Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Bantul. Ia yakin, Indonesia mampu mengisi ceruk pasar buah anggur dunia karena permintaannya melebihi produksi yang dipasok Eropa, Italia, dan Cina.
"Masih ada peluang kita untuk mengisi ceruk pasar itu. Jika di sini mampu mengembangkan 40 varian anggur, kita akan dorong pemuda lainnya untuk bisa mengembangkan sepuluh ribu varian anggur lainnya di Indonesia," kata Bambang Soesatyo kepada Kukuh Setyono dari GATRA pada Selasa lalu.
Bamsoet, demikian ia akrab disapa, melihat langkah Jogja Anggur perlu ditiru banyak pemuda di dunia pertanian. Dengan sistem pertanian modern, generasi muda memiliki peluang kembali bekerja di desa dengan "rezeki kota" dan dikenal dunia.
"Pemerintah telah mencanangkan berbagai program mendorong kalangan muda menjadi petani. Ada desa wisata agro, desa wisata industri, desa wisata digital. Ini sebagai upaya mendorong pemuda dari kota kembali ke desa," ucapnya.
Ia optimistis bahwa produk pangan Indonesia memiliki masa depan cerah di kancah global. "Dengan keunggulan Indonesia berupa luasan lahan dan beragamnya varietas tanaman pangan, masa depan Indonesia ada di bisnis pangan. Tidak sekadar kawasan Asia Tenggara, namun juga dunia," katanya.
Bamsoet mencontohkan, Singapura akan menjadi pasar besar karena tidak memiliki lahan pertanian dan Indonesia mampu menjadi pemasok utama kebutuhan pangan di sana. Peluang Indonesia di bidang pangan akan makin terbuka lebar jika petani muda mampu mengembangkan berbagai tanaman pangan dan buah-buahan yang dibutuhkan dunia.
"Pascapandemi nanti, dari 7,8 miliar penduduk dunia, produk Indonesia diperkirakan mampu menyasar 4 miliarnya," ujarnya.