Home Gaya Hidup Boleh Berambisi Jangan Lupa Evaluasi

Boleh Berambisi Jangan Lupa Evaluasi

Simulasi pembelajaran tatap muka tujuh sekolah di Jawa Tengah diklaim berjalan sukses. Kegiatan simulasi bakal terus berlanjut. Jumlah siswa ditambah. Pengawasan tidak boleh lengah.

Tiga daerah dipilih dalam simulasi sekolah tatap muka. Masing-masing Temanggung, Wonosobo, dan Kota Tegal. Ketujuh sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project, yakni SMAN 1 Parakan dan SMKN 1 Temanggung, SMAN 2 dan SMKN2 Wonosobo serta SMAN 2. Adapula SMKN 2 Kota Tegal, serta satu sekolah swasta di Tegal, yakni SMA Pius.

Pelaksanaan sekolah tatap muka yang berlangsung sejak 7 September lalu, terus dilakukan evaluasi. Hasilnya, Oktober ini akan terus berlanjut. Bahkan tidak menutup kemungkinan menambah sekolah baru.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Padmaningrum menerangkan, pihaknya akan memulai kembali simulasi belajar tatap muka di tujuh sekolah yang ditunjuk pada 5 Oktober mendatang. Jumlah siswanya akan ditambah 100 %, dari jumlah awal yang mengikuti tatap muka. Dia mencontohkan, misalnya di SMKN 1 Temanggung yang awalnya diikuti 72 siswa, pada tahap kedua nanti akan ditambah menjadi 180 siswa.

Begitu juga di sekolah lain yang telah ditunjuk itu, akan dilakukan penambahan jumlah siswa 100 % dari tahap awal. “Selain itu, kami juga melakukan penambahan sekolah yakni di tiga SMK Negeri Jateng baik di Semarang, Pati, dan Purbalingga, serta SMA Pradita Dirgantara dan Taruna Nusantara. Kenapa kami pilih sekolah yang berasrama, karena lebih mudah dalam pengaturannya,” katanya.

Di sekolah-sekolah baru yang ditunjuk itu lanjut Padma, juga akan dibatasi jumlah siswanya. Misalnya di SMA Taruna Nusantara dengan jumlah siswa lebih dari 1.000 orang, maka hanya diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka pada 150 orang siswa. “Sambil kami mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan dan juga kesiapan sarana prasarana penunjang lainnya,” katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, setelah dilakukan pengecekan, 97,4 % ada dukungan orang tua, 95 % pelaksanaan protokol kesehatan berjalan dengan baik, dan 82 % komunikasi antara orang tua dan guru berjalan baik. “Memang tetap harus diperbaiki, agar capaiannya bisa 100 %,” ujarnya.

Dari hasil evaluasi itu, terdapat beberapa temuan yang menjadi catatan. Di antaranya, ada tiga siswa di Temanggung yang tinggal di pondok pesantren, dan dua siswa di Wonosobo yang berangkat menggunakan angkutan umum. “Solusinya sudah diambil dengan meminta mereka belajar jarak jauh. Nah temuan-temuan ini juga akan menjadi pertimbangan,” imbuhnya.

Penambahan jumlah siswa dan jumlah sekolah juga mempertimbangkan status zonasi. Tak hanya untuk sekolah baru yang ditunjuk, terhadap tujuh sekolah yang sudah melaksanakan juga tetap dievaluasi. “Tentu semua mempertimbangkan zona, bahkan yang ada ini kalau terjadi zonanya naik, saya minta dicek ke Dinas Kesehatan atau Satgas tentang mikrozonasinya. Dicek apakah sekolah itu masuk zona merah, atau tempat tinggal siswanya yang masuk zona merah. Kalau itu terjadi, maka siswanya dilarang sekolah dan kalau sekolahnya berada di zona merah, ya ditutup dulu,” tandasnya. Muh Slamet

 

70