Wabah Covid-19 mendatangkan berbagai kesan dan pengalaman berharga bagi setiap orang. Tidak terkecuali buat Juliari Peter Batubara.
Sebagai orang nomor satu di Kementerian Sosial, kerja ekstra sudah menjadi konsekuensinya dalam menjalankan tugas sebagai pembantu presiden. Memastikan semua program dalam bantuan sosial (bansos) terlaksana secara optimal.
Namun di antara berbagai pengalaman berkesan, menurut Juliari, ada dua hal yang terbilang menjadi semacam hikmah. Yang pertama, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ternyata justru makin mendekatkan dirinya sebagai ayah bagi putra dan putrinya.
Meskipun sibuk, ujar Juliari, saat harus kerja dari rumah kadang masih ada waktu jika sore menjelang malam mengajak anak-anak untuk bersepeda keliling kompleks. Tidak jarang dengan masih mengenakan pakaian kerja, ia toh bisa antusias serta menyempatkan diri untuk gowes bareng.
"Yang saya pikir kalau kondisi normal tidak mungkin, karena mereka sudah sibuk dengan sekolahnya dan kegiatan ekstra kulikuler yang lain, sementara saya harus menyelesaikan sejumlah tugas di kantor," katanya kepada Erlina F. Santika dari Gatra.
Hikmah kedua, saat PSBB beberapa kali ia terdorong untuk turun ke lapangan. Menelusuri sejumlah gang di kawasan Cakung Timur hingga Cengkareng.
Tujuannya sederhana, memastikan bantuan sampai kepada penerima yang berhak. Dalam kesempatan itu ia sempat melihat ada satu rumah ditempati oleh dua hingga tiga keluarga berbeda.
"Itu satu gang, tidak ada cahaya, banyak pintu di dalam, di dalam pintu itu bisa dua, tiga, empat keluarga. Kalau misalnya di-lockdown, itu bisa dibayangkan dapat menimbulkan konflik sosial, karena tidak ada income, enggak bisa keluar, sirkulasi udara enggak bagus. Saya sudah enggak kebayang. Saya amati kalau di-lockdown ya bisa kerusuhan itu,’’ ujarnya.
Juliari pun menilai langkah pemerintah untuk menerapkan PSBB dan tidak melakukan lockdown sudah tepat. Pasalnya jika lockdown dipaksakan secara ketat tanpa melihat kondisi riil di lapangan, dalam jangka waktu tidak lama karena tekanan ekonomi, orang bisa gampang marah dan mudah terpicu konflik.
----------g ----------