Home Gaya Hidup Butuh Waktu Untuk Bisa Menyatu

Butuh Waktu Untuk Bisa Menyatu

Pemkot Solo, Jawa Tengah berencana membuat museum batik. Lokasi, maupun side plan, sudah siap semua. Hanya saja butuh waktu untuk benar-benar bisa merealisasikannya.

Lokasi yang dipilih merupakan rumah sitaan dari eks Kakorlantas Polri Djoko Susilo yang terjerat kasus simulator SIM. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 2017 lalu menghibahkan rumah tersebut kepada Pemkot Solo.

Usai dihibahkan, rumah itu kemudian diberi nama Ndalem Priyosuhartan. Belakangan, muncul gugatan dari anak Djoko Susilo. Hanya saja gugatan tersebut kandas di pengadilan.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan rencana ini sempat terhenti karena ada ganjalan perkara. “Makanya sementara waktu rencananya dihentikan sementara,” katanya.

Rencananya setelah selesai perkara, Pemkot akan langsung membuatkan sertifikat untuk tanah ini. Namun saat ini Pemkot Solo masih menunggu penyelesaian dari pengadilan. ”Tunggu dulu sampai inkrah,” ucap Rudy.

Selain itu Pemkot Solo masih harus menunggu karena masih ada beberapa barang dari pemilik sebelumnya yang belum diambil. Setelahnya rencana sertifikasi akan diteruskan. ”Biar tempatnya dikosongkan dulu. Barang-barangnya biar diambil dulu. Kemudian bisa melanjutkan untuk pembuatan museum batik,” jelasnya.

Pemkot Solo sudah menyusun side plan untuk pembuatan museum batik. Bahkan selama awal pandemi Covid-19, bangunan ini juga difungsikan untuk rumah sementara bagi tenaga kesehatan (nakes) yang tidak bisa kembali ke rumah. ”Biar nanti kelanjutannya di Dinas Kebudayaan. Sudah pegang side plan-nya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara bisa menjadi contoh sebagai destinasi wisata yang mengutamakan ramah lingkungan dan terjaganya ekosistem. “Tinggal melakukan edukasi kepada masyarakat di Karimunjawa serta dorongan aksi dan gerakan-gerakan masyarakat untuk peduli lingkungan dengan memilah sampah harus terus dilakukan,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Lebih lanjut Ganjar menyatakan, Karimunjawa memiliki ciri-ciri dengan pulau-pulau kecil sehingga sangat rentan terjadinya kerusakan lingkungan, sehingga perlu orientasi utamanya harus pada aspek lingkungan. Konsep pembangunan berkelanjutan di Karimunjawa harus kuat dalam wawasan lingkungan. Pariwisatanya diharapkan tidak terlalu masif dan harus ada kontrol. “Mudah-mudahan Karimunjawa bisa menjadi objek wisaya yang ramah lingkungan, kemudian kondisi lingkungan bisa terjaga ekosistemnya dengan baik,” ujarnya.

Saat ini di Karimunjawa sudah ada kelompok masyarakat peduli sampah yang digerakkan oleh anak-anak muda, hanya saja kapasitasnya masih kecil. “Memang harus didorong dengan gerakan-gerakan atau aksi-aksi untuk nantinya bisa kampanye, bagaimana wilayah di Karimunjawa betul-betul mengelola sampahnya dengan baik,” ujar Ganjar. Muh Slamet

 

47