Berbagai kalangan masyarakat hingga korporasi berinisiatif bantu siswa yang kesulitan belajar daring. Dari menyediakan akses internet cuma-cuma hingga melakukan penggalangan dana untuk pengadaan perangkat belajar.
Pukul 08.00 pagi, Senin lalu, dua bocah mendatangi sebuah warung berkelir oranye berukuran 3x6 meter yang tak jauh dari rumah mereka, di kawasan Jalan Raya CIledug Jombang, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten. Warung Kopi Rizki namanya.
Satu anak berseragam olahraga warna putih biru, satunya lagi berseragam putih lengan panjang dibalut rompi hijau, lengkap dengan topinya.
Keduanya mengenakan masker, duduk saling membelakangi, menunduk seraya melihat buku dan gawainya masing-masing. Jangan salah, mereka bukan sedang membolos untuk ngopi, tapi memang tengah belajar secara daring (online).
Bocah berompi hijau, Muhammad Kahfi Mauludin, yang bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Falah, Pondok Pucung, Tangerang, Banten, sedang mengerjakan tugas dari guru yang diberikan melalui grup aplikasi pesan WhatsApp.
Setelah selesai mengerjakan, Kahfi harus ke sekolah mengumpulkan buku tugasnya, kemudian bisa kembali pulang. Dalam satu hari, Kahfi mengaku hanya menerima satu mata pelajaran saja.
Meski menjalani belajar daring itu santai, Kahfi tak begitu menyenanginya. Bocah kelas V ini kesulitan mengerjakan tugas hingga meminta bantuan ibunya. Selain itu, ia rindu belajar dan bermain bersama teman-temannya.
Perubahan pola belajar sejak pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) ini, membuat orangtua Kahfi membeli gawai baru untuk anaknya. "Baru punya ini (gawai) pas belajar online. Dulu pakai HP ibu," ujar bocah berusia 10 tahun itu kepada Erlina Fury Santika dari Gatra.
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini tentu saja membuat pengeluaran keluarga Kahfi kedodoran. Ayahnya, seorang petugas keamanan, harus merogoh dompet untuk beli kuota internet. Namun untunglah ada Warkop Rizki untuk numpang akses WiFi gratis.
Pemilik warkop, Anhar Rizki Affandi, memang sengaja menggratiskan akses WiFi-nya untuk anak-anak belajar daring sejak dua pekan lalu. "Mungkin ada yang kesulitan untuk akses internet, kuota, segala macam. Sedangkan di warkop pakai wifi. Kita bayar dengan biaya yang sama (dengan atau tanpa anak-anak belajar online). Ya sudah, dari situ kita gratiskan saja buat anak-anak belajar di sini," kata dia.
Hal ini kemudian ia sampaikan ke ketua RT setempat. Ia meminta ketua RT untuk sounding tentang akses WiFi gratis itu ke warganya. Setelahnya, banyak anak hadir untuk belajar di tempatnya, tentu dengan penerapan jaga jarak antarfisik untuk mencegah penyebaran Covid-19. "Awalnya bisa lima sampai enam anak, bahkan pernah delapan. Tapi ke sini, jadi tiga sampai empat anak," pria 37 tahun itu menerangkan.
Rizki tak menerapkan syarat khusus bagi siswa datang belajar daring di warkopnya, seperti harus beli makan atau minum di sana. Ia hanya meminta anak-anak fokus belajar. Selain itu, tak ada batasan waktu dalam menggunakan WiFi tersebut, tapi sore hingga malam anak-anak tak boleh mengaksesnya. Hal ini sesuai dengan imbauan dari ketua RT untuk mencegah mereka menggunakan internet yang bukan semestinya.
Tak hanya Rizki yang punya hajat membantu anak-anak PJJ. Sejumlah jurnalis yang mengatasnamakan Wartawan Lintas Media menggalang donasi ponsel bekas untuk diberikan kepada siswa tak mampu. Masih banyak siswa yang tak bisa mengikuti PJJ lantaran tidak memiliki gawai.
Ide tersebut terinspirasi saat seorang pemulung mencari ponsel bekas untuk membantu anak-anaknya tetap bisa belajar dari rumah di tengah pandemi. Menurut wartawan harian The Jakarta Post Margareth S. Aritonang, kisah pemulung itu menjadi akumulasi dari banyak cerita yang dialami warga lain dengan situasi sulit serupa.
"Kami bertemu banyak keluarga yang hanya punya satu ponsel yang dipakai secara bergantian oleh orangtua untuk mencari nafkah dan juga oleh anak-anak mereka untuk mengikuti PJJ," ujar Margareth kepada wartawan Gatra Dwi Reka Barokah.
Ghina Ghalia, wartawan The Jakarta Post yang juga terlibat dalam penggalangan donasi tersebut, menjelaskan ada beberapa kriteria siswa yang lolos verifikasi untuk mendapatkan ponsel.
Syarat utamanya harus bersekolah formal dan menjalankan program PJJ, memberikan salinan nilai raport terakhir, dan mengumpulkan beberapa tugas sekolahnya.
"Guru dan orangtua siswa calon penerima donasi juga akan diminta untuk memberikan keterangan untuk verifikasi data siswa tersebut, dan mengawasi pemakaian ponsel," Ghina menjelaskan.
Selain ponsel bekas, Ghina bersama rekan-rekannya juga menerima donasi berupa uang tunai. Masyarakat bisa mengunjungi laman kitabisa.com/ponselpintaruntukpelajar untuk mengirimkan bantuan uang tunai. Uang yang diterima nantinya akan dibelikan ponsel, paket internet, charger, dan earphone bagi para siswa penerima donasi.
Proses pengumpulan donasi ponsel bekas dan uang tunai masih berlangsung hingga 31 Agustus 2020.
***
Tak hanya Jakarta dan sekitarnya yang punya gerakan membantu siswa belajar daring di tengah pandemi. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, ada sekolah khusus yang diperuntukkan bagi siswa belajar online. Namanya Sekolah Gazebo, yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang.
Sekolah dengan bangunan utama rumah panggung berukuran 3x3 meter, tiang balok, dan dinding bambu dengan aneka tanaman di sekelilingnya memberikan nuansa nyaman bagi siswa belajar daring di sana. Sekolah Gazebo baru dimanfaatkan untuk siswa belajar daring sekitar dua pekan ini.
Ide awal membangun Sekolah Gazebo datang dari Satuan Bimbingan Masyarakat (Binmas) kepolisian setempat. "Sekolah Gazebo lahir dari niat untuk membantu masyarakat. Terutama di wilayah binaan saya di Kelurahan Tello Baru, Kecamatan Panakkukang," tutur Briptu Muhammad Kazim Latif pencetus Sekolah Gazebo.
Melihat situasi dan ada tempat yang bisa dimanfaatkan, ia pun berkolaborasi menyediakan fasilitas wifi gratis untuk anak-anak yang ingin belajar. Anak-anak yang ingin belajar bisa datang ke Sekolah Gazebo cukup membawa ponsel sembari tetap memperhatikan protokol kesehatan yang diberlakukan. "Bagi yang tidak punya ponsel, saya juga pinjamkan ponsel dan laptop," kata Kazim polisi yang sudah berdinas 17 tahun ini.
Sekolah Gazebo juga menyiapkan guru pendamping. Kazim melibatkan orang-orang yang mau berpartisipasi untuk membantu. Apalagi di tengah pandemi banyak orang yang kehilangan aktivitas bekerja di luar.
Sekolah Gazebo dijalankan dengan prinsip gotong-royong. RT menyediakan tempat dan kursi. Binmas menyiapkan WiFi, ponsel, dan laptop. Menurut Kazim, inisiasi itu dilakukan untuk membantu anak-anak sekolah yang kesulitan belajar daring. Terutama dalam mengerjakan tugas-tugas. Sebab, disadari, di lingkungan sekitar, masih banyak anak-anak kesulitan belajar daring.
Murid yang datang memanfaatkan fasilitas Sekolah Gazebo rata-rata yang bermukim di lingkungan sekitar. Kapasitas tempat yang terbatas juga membuat pihak pengelola membatasi jumlah murid.
Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan jaga jarak. "Kalau sudah sampai sepuluh orang, kadang kita bagi dua kelompok. Ada yang di dalam bangunan, ada yang di pekarangan untuk belajar," ia menambahkan.
***
Masih sulitnya jaringan internet dalam kegiatan PJJ di tengah pagebluk diakui oleh Menteri Pendidiknn dan Kebudayaan Nadiem Makarim. "Saya sadari kondisi ini sangat serius dan perlu segera diatasi, karena faktor ini adalah penentu penyampaian konten pembelajaran kepada siswa," ucap Nadiem saat berkunjung ke sejumlah sekolah di Bogor, Jawa Barat akhir Juli lalu.
Situasi sini juga disadari pihak korporasi seperti operator telekomunkasi Telkomsel yang mulai bergabung membantu gerakan untuk menyediakan akses internet terjangkau bagi siswa.
Vice President Corporate Communications Telkomsel, Denny Abidin, menyebut pihaknya proaktif mengambil peran dalam upaya gotong royong dan solidaritas bersama semua elemen masyarakat di tengah Covid-19, termasuk ikut membantu memudahkan pelajar menjalani PJJ.
Seperti ketika awal ada imbauan untuk aktivitas belajar di rumah, perusahaannya menghadirkan Paket Bebas Akses Ilmupedia sejak 16 Maret sampai 31 Mei lalu. "Ini dapat digunakan untuk mengakses aplikasi belajar online dan e-learning kampus yang telah bekerja sama dengan Ilmupedia,” ia menjelaskan kepada Ryan Puspa Bangsa dari Gatra.
Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 Telkomsel juga meluncurkan Paket Ilmupedia E-Learning Session, dengan menyediakan akses ke lebih banyak platform berkat kolaborasi yang telah Telkomsel jalin bersama platform edutech, institusi perguruan tinggi, dan pemerintah.
Terkait dengan akses internet yang belum menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, terutama di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal), Denny menyebut pihaknya telah menghadirkan sekitar 15.000 BTS hingga ke wilayah perbatasaan. Bahkan, dilakukan penambahan lebih dari 25.000 BTS 4G LTE baru hingga akhir tahun ini.
Serupa dengan Telkomsel, XL Axiata juga sebagai penyedia layanan internet meluncurkan sejumlah inisiatif dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar secara daring. Salah satunya, melalui program CSR XL Axiata yang membantu para pelajar di pelosok membeli kuota internet untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Pekan lalu, XL Axiata juga telah menyalurkan bantuan di dua wilayah, yakni di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten.
"Bantuan diwujudkan berupa perangkat router yang dapat digunakan untuk mengakses internet berbarengan hingga 32 perangkat sekaligus, serta paket data sebesar 20 GB setiap bulan selama 1 tahun," ujar General Manager Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih Harlianti.
Seperti halnya Telkomsel, XL Axiata juga mengeluarkan berbagai paket kuota internet untuk mendukung program PJJ ini. Pada pertengahan Juli 2020 lalu, XL Axiata mengeluarkan paket "Xtra Edukasi" yang menawarkan berbagai variasi harga kuota internet yang terjangkau dan dapat dipakai untuk mengakses sejumlah aplikasi yang biasa digunakan untuk mendukung belajar siswa seperti Ruang Guru, Zenius, dan Sekolahmu.
Fitri Kumalasari dan Baharuddin Moenta (Makassar)