Home Gaya Hidup Tak Perlu Dikhawatirkan Lagi

Tak Perlu Dikhawatirkan Lagi

Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk

Rivan Achmad Purwantono

Tak Perlu Dikhawatirkan Lagi

Bank Bukopin sebenarnya punya kinerja dan fundamental bisnis yang bagus. Masuknya bank dari Korea, Kookmin Bank, diharapkan bisa menguatkan strategi bisnis selama ini. Investasi dari luar bisa mendorong akselerasi penyelamatan ekonomi nasional. 


Bukopin, bagi Rivan Achmad Purwantono, bukan tempat asing. Ia sudah bergabung di bank ini sejak 2006 sebagai Private Banking Group Head. Per 8 Mei 2020, Menteri BUMN, Erick Thohir, menunjuknya sebagai Direktur Keuangan PT Kereta Api Indonesia. Enam minggu memakai seragam KAI, Rivan kembali ke Bukopin.

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 18 Juni 2020, Rivan ditunjuk sebagai Direktur Utama Bank Bukopin, menggantikan Eko Rachmansyah Gindo yang telah berakhir masa jabatannya. "Sudah enggak pakai seragam dan gesper lagi," ucapnya kepada GATRA, 17 Juli lalu.

Paginya, sebelum menerima tim GATRA untuk wawancara di Hotel Melia, Kuningan, Erick Thohir sempat meneleponnya. Rivan mengatakan, Erick intens memantau perkembangan kesehatan Bank Bukopin. "Kan, saham pemerintah terbesar ketiga di Bukopin," ia memberikan alasan mengenai mengapa Kementerian BUMN menaruh perhatian ke Bank Bukopin.

Menurut Rivan, pemerintah ingin memastikan bahwa Bank Bukopin tidak menjadi bank gagal. Jika Bank Bukopin kolaps, akan berdampak secara sistemis dan mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. Berdasarkan data OJK, setidaknya ada 32 bank yang akan terdampak jika Bank Bukopin benar-benar berstatus bank gagal. "Makanya alhamdulillah, begitu putus, ada PSP (pemegang saham pengendali). Saya langsung tenang," ujarnya.

Pria kelahiran Kudus, 26 September 1966 itu, mengatakan bahwa Kookmin Bank berkomitmen sebagai standby buyer. Dengan masuknya Kookmin Bank sebagai PSP, Rivan optimistis, Bank Bukopin akan menjadi global banking di bidang keuangan mikro serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). "Kookmin bertanggung jawab terhadap tata kelola maupun kelangsungan bisnis Bank Bukopin," katanya.

Rivan juga menceritakan tentang munculnya informasi hoaks yang sempat melunturkan kepercayaan nasabah Bank Bukopin. Untungnya, pemerintah dan regulator serius menindak penyebar berita menyesatkan tersebut.

Selama kurang lebih dua jam pembincangan dengan GATRA, Rivan mejelaskan berbagai persoalan, dari adanya masalah antrean penarikan uang nasabah hingga rencana private placement yang akan dilakukan Kookmin Bank. Berikut petikannya:

 

Bagaimana kinerja Bank Bukopin selama ini? 

Secara kualitas bisnis, di 2019 jauh lebih bagus daripada 2018. Di Maret pun, posisi kita masih bagus. Laba masih bagus, NPL masih di bawah lima, semua masih bagus. Bahkan CAR kita masih 12,59%, masih di atas threshold, tapi memang ketika Covid-19, masyarakat sensitif. Di sisi lain, kita akui ada antrean, karena bank kita ini adalah bank yang melayani pensiun, payroll. Bahkan kalau bicara tentang pensiun itu, mereka lebih senang dengan pengambilan cash langsung ke counter-nya.

Di sisi lain, pada saat Covid-19, muncullah bicara tentang bagaimana protokol kesehatan yang kita jaga, 48% kantor kita ini tutup. Dengan demikian, akan terfokus pada cabang-cabang yang buka. Ketika protokol kesehatan diterapkan, muncullah isu. Dalam kondisi ini, kami merasa perlu belajar lagi agar bisa melayani nasbah dengan baik. Jadi, mohon maaf kepada nasabah, kalau kemarin ada yang enggak bisa dilayani dengan baik, insyaallah sekarang jauh lebih bagus.

 

Sempat ada kabar Bank Bukopin masuk dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kalau diawasi, pasti diawasi. Kalau intensif, mungkin iya, tapi intensif dalam pengertian karena isu negatifnya banyak. Namanya juga OJK, sebagai pengawas bank. Saya kira itu biasa dan wajar, dan komunikasi kami dengan OJK juga sangat baik. Tidak perlu diawasi, kami pun report perkembangannya. Langkah-langkah yang kita ambil juga sesuai dengan regulasi yang ada, sehingga pada saat kita terapkan, GCG (good corporate governance) kita terjaga. Saya kira isu seperti itu [masuk ke pengawasan intensif] akan muncul, karena sebagai pengawas bank, harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan bisnis bank, bahwa harus melakukan tata kelola yang baik.

 

Terkait kinerja, bagaimana NPL Bank Bukopin?

Sebenarnya, sampai Maret menurun. Itu memang belum Covid-19, tapi karena Covid-19 ini, pasti naik. Di tahun 2018, kita juga masih 4,75% dan terus akhirnya seperti ini. Hari ini, ada enggak bank mau ngomongin NPL? Karena mereka lagi konsolidasi. Tapi yang naik ini karena Covid-19, pengaruh sekali. 

 

Beredar kabar, ada pemegang saham yang macet kreditnya di Bank Bukopin.

Pemegang saham enggak ada yang bermasalah kreditnya, apalagi macet. Enggak ada. Pemegang saham enggak ada yang macet.

 

Beredar kabar pula Bank Bukopin melakukan pelanggaran terkait batas maksimum pemberian kredit (BMPK).

Itu dijamin enggak sama sekali. Itu confirm OJK juga. BMPK itu, kan lapor pasti. BMPK pasti aman, karena BMPK itu pasti terpublikasi, karena OJK ditanya juga, pasti ngomong.

 

Pada RUPST kemarin, bagaimana solusi atas persoalan Bank Bukopin?

Masuknya Kookmin Bank, sebagai standby buyer dan menjadi PSP, makin lengkaplah kondisi komposisi yang lebih bagus. Kookmin ini satu perusahaan besar. Global finansial Kookmin ini mencapai 9.500 triliun. Khusus Kookmin bank ini, mempunyai aset 4.500 triliun. Artinya besar sekali. Kita melihat masyarakat sudah mulai tahu dan yakin bahwa sudah ada PSP, dan tidak perlu dikhawatirkan lagi. PSP pun grup besar dan bertanggung jawab terhadap tata kelola maupun kelangsungan bisnis Bank Bukopin.

 

Apa daya tarik Bank Bukopin, sehingga Kookmin Bank mau masuk dan berinvestasi?

Bank ini seksi. Ketika Kookmin fokus ke 24 negara, termasuk beberapa negara di Asia, dimulai dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Filipina, kemudian Kookmin melihat, ini potensi bagus ini Indonesia. Ketika melihat, Bukopin ini 57% dari total kreditnya adalah masuk ke kriteria kredit UMKM, meliputi baik SMI (small medium industry) maupun microfinance, sehingga ini menjadi target market menarik buat Kookmin.

 

Apa yang Anda maksud dengan target?

Saya ketemu sama orang Kookmin, dia di Kambajo, Myanmar, dan negara Asia lainnya. Bisnisnya microfinance dan SMI, tapi by aplikasi, by scoring. Itu yang seharusnya kita bisa terapin.

 

Sebelum RUPST, Kementerian BUMN sempat mengundang Bank Bukopin. Apakah ini strategi melakukan pendekatan?

Saya kira bukan pendekatan, karena Kementerian BUMN melalui pemerintah, kita punya 8,9%. Artinya 8,9%, pemerintah pemilik saham terbesar ketiga. Kopelindo itu keempat. Makanya sebagai pemegang saham terbesar ketiga, sifatnya koordinatif, bahkan pemerintah ini, dalam konteks Kementerian BUMN, minta update. Atas kepentingan kepemilikannya ini, maka sebagai pemegang saham juga harus mengetahui kondisi banknya seperti apa.

 

Soal adanya technical assistance Bank BRI, apakah sudah selesai?

Selesai, dan yang teknologi nanti digarap UMKM dan pensiun. Kerja samanya baik, lead-nya saya. Intinya, ya dalam konteks bank yang membutuhkan TA, banyak transaksional yang melibatkan bank-bank lain. 

 

Setelah terpilih sebagai direktur utama, apa pesan Menteri BUMN kepada Anda?

Ini bukan Pak Erick, tapi ini goverment message. Satu, enggak boleh ada bank gagal. Kedua, kalau enggak serius, kasih tahu kita, pemerintah akan bersikap. Yang paling penting itu, pemerintah memonitor perubahan setiap hari. Presiden tanya, menteri tanya. Begitu penting fundamental bank ini sebagai penyangga ekonomi nasional, tapi karena dia [Kookmin] berkomitmen, jaga sampai dia merealisasikan komitmennya.

 

Bagaimana dengan nasib saham pemerintah di Bank Bukopin? Berkurang tetap atau bertambah?

(Rivan sempat menjelaskan tentang rencana aksi pemerintah terhadap saham di Bank Bukopin. Namun meminta informasi ini off the record.)

 

Apakah Kookmin Bank berkomitmen melakukan private placement?

Commit, karena untuk kepentingannya dia.

 

Jadi, private placement tunggu 25 Agustus?

Iya. Jadi gini, ini kan bicara bukan bisnis normal. Ini extraordinary.

 

Mengapa bisa muncul private placement?

Karena ini sudah masuk ke penyelamatan ekonomi nasional, masuk ke PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional). Sudah extraordinary.

 

Bukankah private placement tidak lazim?

Jangan ngomong enggak lazimnya. Siapa yang mau, hari ini mau dilempar pasar. Jadi, jangan berpikir masalah harga, tapi berpikir masalah penyelamatan. Itu tujuannya.

 

Di tengah pandemi Covid-19, bagaimana strategi Bank Bukopin agar tetap stabil?

Kondisi bisnis yang akan datang, dengan adanya pandemi ini, kita melakukan restrukturisasi di beberapa bisnis. Jadi, kita bagi-bagi segmen. Di masing-masing segmen kita lihat profilnya dan risiko masing-masing. Contoh, di sektor mamin (makanan dan minuman), dulu sempat drop, sekarang recovery, tapi [perusahaan mamin] masih ada kesulitan. Ya, oke, kemampuan mereka turun ke 80%. Ya sudah, kewajibannya kita buat 80%. Di segmen transportasi, misalnya hanya mampu 30%. Ya sudah, 30%. Jadi, enggak zero, sehingga pada masing-masing segmen ini beda treatment, berikut turunannya juga.

Bagaimana turunannya, juga terkait dengan KPR karyawan di segmen itu, misalnya. Ini juga dilakukan beberapa kebijakan baru. Dengan demikian, kita yakinin bahwa pilihan restrukturisasi atau pola bisnis akan baik di 2021. Ini memang kondisi sulit, tapi industri juga sama sulitnya. Pendapatan juga rendah. Intinya, kita siap menghadapi itu.

 

Masuknya Kookmin Bank menjadi PSP, apakah menambah daftar bank yang dikuasai asing?

Nasionalisme itu tidak dilihat dari kepemilikan saham, tetapi dilihat kontribusinya membangun ekonomi Indonesia. Bank yang ada di Korea, enggak mungkin ngutangi orang Korea tok. Kookmin juga yang punya bukan hanya orang korea. Jangan-jangan, punya orang Indonesia juga. Kan itu juga asing di mata mereka. Nasionalisme itu bukan dari kepemilikan, tapi kontribusinya terhadap masyarakat Indonesia. Itu yang lebih penting.