
Namanya mentereng Van Deventer School. Awalnya, sekolah ini dibangun sebagai sekolah lanjutan pertama bagi kaum perempuan dengan konsep asrama (boarding school). Kini semuanya tinggal kenangan.
Orang masa sekarang mengenalnya dengan SMA Ibu Kartini Kota Semarang. Namun, masa keren sekolah ini telah lewat. Tahun ini, sekolah tersebut tidak menerima siswa pada masa pendaftaran siswa baru. Sekolah itu bangkrut dan akan tutup.
Bangunan sekolah ini dibangun diatas lahan seluas 12.060 m². Di dalam kompleks tersebut ada dua jenis bangunan sekolah berbeda masa, yaitu bangunan lama yang memiliki luas 2.868 m² dan bangunan baru seluas 1.008,3 m².
Halaman dipenuhi oleh rumput liar, piala-piala yang berdebu, tiang-tiang khas bangunan Belanda yang kokoh. Ruangan-ruangan besar yang kosong seakan merindukan jejak tawa riang anak-anak sekolah.
Kepala SMA Ibu Kartini, Soekrismanto mengatakan dalam tahun ajaran baru kali ini, pihaknya tidak lagi membuka pendaftaran akibat sepinya animo masyarakat sejak beberapa tahun silam. "Sejak beberapa tahun tahun terakhir jumlah pendaftar terus berkurang. Saat ini hanya tersisa 3 kelas saja dengan total 45 murid," ungkapnya, Jumat (10/7).
Padahal, katanya, dalam masa kejayaannya, SMA Kartini mampu membuka 15 kelas sekaligus. Beberapa kelas yang dulunya difungsikan sebagai asrama bahkan harus dirubah total menjadi kelas. "Waktu lagi jaya-jayanya kami bisa membuka 15 kelas, bahkan sampai menolak murid. Tapi sekarang kondisinya telah jauh berbeda," kenangnya.
Menurutnya, sistem zonasi dalam pelaksanaan PPDB juga tidak tepat. Sebab, ada beberapa kasus yang membuat calon siswa SMA swasta harus ditarik secara tiba-tiba ke sekolah negeri.
"Tahun kemarin terjadi disini, ada dua siswa yang sudah keterima, sudah bayar. Eh karena ada kesalahan tiba-tiba malah keterima di negeri. Padahal sebelumnya orang tuanya bilang tidak keterima," jelasnya.
Untuk itu, saat ini SMA Kartini hanya fokus meluluskan 45 muridnya dalam tahun ajaran berikutnya. "Nunggu yang sekarang naik ke kelas 11 dan 12, lulus dulu baru kita akan buka pendaftaran," ucapnya.
Soekrismanto bahkan berseloroh, jika saat ini bangunan sekolah lebih banyak ditempati oleh makhluk halus ketimbang manusia. "Kalau mau melihat yang begituan (penampakan) paling banyak ada di pinggir lapangan, dekat pohon sawo," tantangnya.
Untuk mengembalikan kejayaannya, yayasan yang menaungi SMA Ibu Kartini bakal merombak sekolah ini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK. "Kami berencana mengubah SMA Ibu Kartini menjadi SMK, sedang dalam tahap pengujian," paparnya.
Sejumlah sekolah swasta di Kota Semarang terancam tutup lantaran kekurangan jumlah murid dalam masa penerimaan siswa didik baru (PPDB) 2020.
Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Swasta Kota Semarang, Untung Cahyono, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir jumlah peminat semakin berukrang sejak pemerintah menerapkan sistem zonasi.
"Dengan adanya aturan zonasi membuat minat siswa ke sekolah swasta jadi berkurang sekali. Contoh dari kuota 3 kelas sekarang cuma 2 kelas. Kemudian dari 9 kelas jadi 7 kelas," ujarnya.
Untung menyebutkan, pada tahun ajaran 2020 terdapat 2 SMA Swasta di Kota Semarang yang tidak menerima peserta didik lantaran akan menutup Sekolah tersebut. "Ada dua SMA swasta yang tidak menerima siswa baru karena sepi, seperti di SMA Kartini dan SMA Gita Bahari," ungkapnya.
Selain itu, beberapa sekolah swasta hanya mampu menjaring 3 siswa baru dalam ajaran baru tahun ini. "Contoh, di SMA Agustus hanya menerima 3 siswa saja, dan SMA lainnya cuma 10 siswa," sebutnya.
Untung berharap, pemerintah dapat memperhatikan nasib sekolah swasta untuk mendaptkan kuota siswa setiap tahun ajaran baru. "Tolong jangan hanya sekolah negeri saja yang diperhatikan tapi swasta juga. Jangan sampai ada sekolah yang ditutup," tandasnya. Muh Slamet