
Kreativitas perlu ditumbuhkan sejak masih usia anak-anak. Salah satunya dengan memperbanyak aktivitas. Langkah itulah yang diambil Rumah Kreatif di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Imbas lain adalah tumbuhnya jiwa berwirausaha sejak dini.
Dengan mengambil sudut bengkel kerja, rumah itu tak pernah sepi. Lima sampai enam anak usia sekolah dasar berkutat dengan lem, gunting, bambu serta lembaran plastik. Mereka merangkai bahan-bahan yang direkatkan untuk dijadikan layang-layang.
Anak-anak itu punya banyak waktu luang mengerjakannya selama jadwal belajar di rumah. Bagi pemula, jenis layang-layang aduan paling mudah dibuat. Dalam sehari, tiga sampai empat buah dapat dihasilkan tiap anak terutama yang sudah mahir.
Suasana itulah yang menyelimuti rumah kreatif milik warga Rt 01/Rw 1 Bladungan Donoyu dan Kalijambe, Sragen, Amin Rosidi. Dari tangan-tangan sejumlah bocah ini, layang-layang aduan yang dibuatnya diminati para pehobi permainan tradisional asal daerah pinggiran itu. Sedangkan anak-anak lain melihat dan belajar merangkai.
"Anak-anak harus terus diasah kreativitasnya. Jangan sampai mereka tumpul karena terlalu lama libur sekolah. Di rumah kreatif ini tersedia bahan-bahan membuat aksesori. Silakan berkreasi," kata Amin Rosidi.
Amin memang berbakat membuat layang-layang. Jenisnya seperti sawangan dan bulanan. Makin besar ukurannya, maka semakin mahal pula harganya. Bahkan ada yang sampai Rp100 ribu per buah. Sedangkan layang-layang aduan buatan anak-anak itu ditawarkan Rp15 ribu per buah. Upah mereka dari tiap penjualan Rp5 ribu per buah. "Sebenarnya bukan uang tujuan utama anak-anak membuat layang-layang untuk dijual. Tapi membangun semangatnya berwirausaha," katanya.
Amin mengajarkan pembuatan layang-layang dari mengukur pola. Untuk jenis aduan, dibutuhkan bilah-bilah bambu aneka ukuran. Kemudian kantung plastik dipotong sesuai kebutuhan. Meski perekatannya sederhana, tapi harus kuat. Itu berkaitan performa lincah dan kuat diadu.
Sementara itu Raihan, salah satu bocah, mengatakan ingin selevel lebih tinggi membuat layang-layang. Ia merasa sudah mahir mengerjakan jenis aduan. "Mau bikin yang lebih bagus dan besar," katanya.
Kasus Covid-19 yang masih tinggi memaksa sekolah-sekolah tetap melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) jarak jauh di tahun ajaran baru 2020/2021. Sekolah di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah memberikan bantuan kuota internet kepada siswa agar bisa mengakses KBM secara daring.
Kepala SMAN 1 Slawi Mimik Supriyatin mengatakan, KBM jarak jauh atau daring tetap dilakukan di tahun ajaran 2020/2021 setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Belum ada batas waktu hingga kapan KBM daring dilaksanakan.
"Sesuai ketentuan provinsi, sekolah diizinkan membuka kelas, KBM, ketika sudah zona hijau. Itu pun zona hijau dengan catatan dua minggu berturut-turut tidak ada PDP (pasien dalam pengawasan)," kata Mimik.
Menurut Mimik, KBM daring bukan tanpa kendala. Kendala itu yakni jaringan internet dan kuota internet bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.
"Kalau kendala jaringan internet, itu kita susah karena antara provider berbeda-beda. Bukan ranah kita. Kalau kuota, solusinya kita ada cara. Dari dana BOS memungkinkan untuk sekolah membantu kuota internet untuk siswa," ujar Mimik.
Untuk itu, lanjut Mimik, pihaknya sedang melakukan pendataan siswa baru yang tidak mampu untuk diberikan bantuan kuota internet senilai Rp50 ribu. Kuota langsung ditransfer ke telepon seluler siswa.
"Kalau sebelum tahun ajaran baru, ada 150-an anak yang kita bantu kuota internet. Sekarang kami sedang mendata lagi berapa siswa yang benar-benar tidak mampu. Itu nanti bisa diberikan per bulan atau per dua bulan tergantung kemampuan dana BOS," ujar dia.
Pemberian kuota internet juga dilakukan MTs N 2 Slawi untuk membantu para siswa mengakses KBM daring di masa pandemi Covid-19. Tak hanya siswa, para guru juga mendapat jatah kuota internet.
Menurut Kepala MTs N 2 Slawi Muhammad Muntoyo, kuota internet diberikan kepada seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9. "Seluruh siswa diberi kuota senilai Rp25 ribu per bulan. Itu bisa sekitar 15 giga. Jadi cukup. Kalau guru Rp100 ribu per bulan. Anggaranya pakai dana BOS. Kalau anaknya tidak boleh punya HP, kami isikan kuotanya ke HP orang tua," ujarnya. Muh Slamet