Ratri Anindyajati, pasien 03 coronavirus disease (Covid-19) yang dinyatakan sembuh medio Maret lalu, siap menghelat festival tari kontemporer bertaraf internasional, Indonesian Dance Festival (IDN). Rencananya, festival tahun ini bakal digelar secara daring di Jakarta pada awal November mendatang.
Menjabat sebagai Program Manager IDF, Ratri menggandeng tiga kurator dari Indonesia dan satu penari berkebangsaan Jerman berdomisili di Belgia, untuk menyeleksi calon pengisi acara. "Sementara ini, yang sedang proses dikonfirmasi itu kira-kira ada delapan koreografer Indonesia yang terlibat, dan sepertinya hanya 2-3 koreografer internasional," katanya kepada Wartawan GATRA, Iwan Sutiawan, melalui sambungan telepon pada Selasa, 14 Juli 2020.
Perempuan yang telah melanglang buana ke Benua Amerika dan Eropa sebagai produser seni independen ini mengungkapkan, dari delapan koreografer itu, enam di antaranya berusia muda dan hampir dipastikan tampil. Namun, ia belum berani menyebut nama karena tentatif akibat masih adanya ancaman virus corona.
Berbeda dengan perhelatan tahun-tahun sebelumnya, berbagai keterbatasan dan dampak Covid-19 membuat IDF tahun ini akan digelar secara virtual. Jumlah pengisi acara pun terpaksa dikurangi. "Buat aku, festival ini paling prestige. Kemarin itu, aku excited banget karena ini challenging," ucap perempuan lulusan program Master in Creative Producing and Management di California Institute of the Art, Los Angeles itu.
Ratri menggambarkan penyelenggaraan IDF sebagai wadah bagi para seniman. Mulai dari penari, koreografer, produser, festival programmer, hingga penikmat seni tari kontemporer dari dalam dan luar negeri, di antaranya Jepang, Korea, Taiwan, serta Eropa untuk berkumpul. "Karya-karya koreografer Indonesia yang ditampilkan di IDF banyak yang diprogramkan touring ke luar negeri," ujarnya.