Home Gaya Hidup Suka Duka Pasar Online Saat Pandemi

Suka Duka Pasar Online Saat Pandemi

Pembatasan aktivitas akibat virus corona (covid19) mengharuskan setiap orang mengubah cara memperoleh kebutuhannya. Dengan dukungan teknologi informasi yang kian canggih, berbelanja di pasar online menjadi pilihannya.

Ayu, pekerja swasta di Palembang menceritakan sudah hampir dua bulan ini, seluruh kegiatan pemenuhan kebutuhannya dilakukan dengan menggunakan fasilitas smartphone, mulai dari aplikasi transportasi online, mal, dan beragam aplikasi e-commerce lainnya. Menurutnya, situasi yang mengharuskan setiap manusia membatasi aktivitas dengan tetap berada di rumah, memberikan keterbatasan dalam mengakses kebutuhan. Misalnya, setiap hari bisa dengan santai berbelanja di mal, namun saat pandemi covid 19 terjadi, maka hal tersebut sudah tidak bisa dilaksanakan. “Memang ada kesulitan, karena biasanya kita leluasa untuk menuju ke tempat-tempat perbelanjaan umum,” ujar dia, Rabu (28/5).

Selain keterbatasan ruang gerak, Ayu mengakui terdapat keterbasan akan akses keuangan. Misalnya selama ini, menggunakan uang tunai dalam setiap pembelanjaan atau juga cukup dengan menyodorkan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) ke kasir toko, maka pembelanjaan dapat dengan cepat diselesaikan. “Saat berbelanja secara virtual, pembeli memang disodorkan dengan berbagai keterangan yang harus teliti diketahui. Jika tidak, maka bisa-bisa terjadi kesalahan yang merugikan,” ucapnya.

Berbelanja virtual juga mendorong masyarakat makin mengenal beragam fasilitas yang diberikan perbankan, misalnya mobile bancking, dompet banking dan lainnya. Transaksi non tunai ini menawarkan beragam produk layanan perbankan yang terkoneksi dengan perusahaan aplikasi e-commerce sehingga menarik perhatian dari calon pembeli.

Dikatakan Ayu, ia pun mulai belajar beralih mengubah tradisi berbelanjanya saat ini, misalnya ia mulai menghapal beberapa akun aplikasi yang dia punya lalu, mengingat beberapa produk yang dijual di toko tersebut. Seperti saat ini berbelanja produk obat, maka ia memiliki aplikasi yang berhubungan dengan kesehatan sekaligus menawarkan fasilitas konsultasi dan berobat dengan tenaga medis. Sedangkan, misalnya mencari kebutuhan pangan sehari-hari, maka sudah ada aplikasi pasar online, yang menawarkan berbagai kebutuhan sembako, daging, daging olahan, ikan, dan lainnya.

“Sudah hapal betul sekarang ini, berbagai toko dan sering juga tukar-tukar informasi sama teman misalnya ada produk dan promosi,” aku Ayu.

Sementara Elsa, mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas swasta Palembang mengakui, semua kebutuhannya saat lebaran yang lalu dipenuhi dengan berbelanja online. Berbeda dengan Ayu, Elsa cendrung memanfaatkan beragam media sosial yang menawarkan berbagai produk, misalnya untuk busana muslimah, maka cari akun-akun media sosial dari merk produk fashion tersebut. “Semuanya belanja online, lebaran kemarin. Mulai dari baju, makanan, kue-kue, pernak pernik seperti gelang, kalung sampai bahan make up, juga cari di instagram,” ujar dia.

Dengan berbelanja melalui media sosial ini, Elsa menyatakan kadang ada keuntungannya namun tidak sedikit kecewa dengan produk yang dijual. Ia menceritakan membeli beberapa corak jilbab melalui akun dengan harga promo. Mengingat harga yang ditawarkan cukup terjangkau, maka ia memutuskan untuk juga menawarkan kepada saudara dan teman-teman agar membeli di toko yang sama. “Karena lihat fotonya bagus, menarik dan harga murah, jadinya sangat suka. Saya ajak beberapa orang untuk membeli agar bisa menghemat biaya kirim (ekspedisi) lalu membeli lumayan banyak,” ucapnya.

Sayangnya setibanya di tangan, jenis barang yang sampai berbeda seperti yang dipesan. Kekecewaan terjadi karena warna yang dipesan, tidak sesuai seperti yang ada di media sosial penjual. Beberapa kali, kekecewaan cuba disampaikan namun penjualnya mengatakan bahwa yang dijual ialah yang tersedia di toko.

“Sempat kecewa, karena akhirnya jilbabnya tidak bisa dipakai atau dipadukan dengan baju yang sudah lebih dahulu dibeli. Akhirnya mencoba membeli lagi, dan kesalahan warna ini pun dialami pemesan lainnya yang memutuskan mengirim ulang barang yang sudah dibeli,” ungkapnya.

Berbelanja online mengalami peningkatan pembeli. Banyak masyarakat akhirnya mulai terbiasa memenuhi kebutuhan kesehariannya dengan mengandalkan smartphone. Bahkan, aplikasi transportasi seperti GoJek pun menyediakan vitur tambahan yang bisa memberikan kemudahan bagi masyarakat membeli kebutuhan di toko-toko yang menjalin kerjasama dengan perusahaan aplikasi transportasi tersebut.

Dwinar, pengemudi GoJek di Palembang ini mengatakan tambahan aplikasi ini juga makin dipilih oleh masyarakat. Dengan menggunakan satu aplikasi yang menghubungkannya dengan layanan suatu mal, maka beragam kebutuhan bisa diperoleh, mulai dari membeli kebutuhan pangan, pakaian, dan lainnya.

“Saya pernah memesan banyak barang di mal yang tidak jauh dari rumah. Barang-barangnya dihantarkan dengan tidak harus bersusah ke mal. Apalagi, jam operasional mal dibatasi, dan ada anjuran untuk tetap berada di rumah,” ujarnya.

Namun memang, diakui kepuasan berbelanja online masih belum bisa menandingi kepuasan berbelanja langsung. Misalnya, berbelanja online sudah ditetapkan harga dan jenis barang yang diketahui melalui video dan foto dari penjual. Hanya saja, perubahan belaja ke arah yang lebih digital belum cukup mampu memberikan kepauasan interaksi para pembelinya, “Minggu lalu saya beli baju koko, di media sosial akun pedagang. Memang terasa beda, apalagi interaksinya tidak bisa memegang barang sebelum membeli. Kepuasan itu tidak hanya melihat foto dan video, tapi juga kebiasaan meneliti suatu barang dengan menyentuh,”ungkapnya.

Peningkatan transaksi keuangan non tunai juga diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Harri Widodo. Ia menyatakan selama pandemi ini, pilihan masyarakat untuk bertransaksi non tunai semakin meningkat karena pilihan pasar yang mereka pilih. Kondisi pandemi covid 19 yang membatasi ruang gerak, menjadikan pilihan berbelanja online menjadi cara utama memenuhi kebutuhan.

“Datanya pasti ada peningkatan, saya nyakin masyarakat makin teredukasi literasi perbankannya. Bagaimana menggunakan pembayaran non tunai, dan perihal keamanan bertransaksi non tunai,” ungkapnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

89