Home Kesehatan Inovasi Puskesmas Banyumas Top 99 Inovasi Pelayanan Publik

Inovasi Puskesmas Banyumas Top 99 Inovasi Pelayanan Publik

Banyumas, Gatra.com – Inovasi pelayanan publik di bidang kesehatan yang diterapkan oleh Puskesmas Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah masuk dalam Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2019.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banyumas, Wahyu Budi Saptono mengatakan inovasi ini diinisiasi oleh Kepala Puskesmas Kebasen, dr Leny Kurniati yang melihat bahwa kematian ibu (AKI) dan kematian bayi baru lahir (AKB) saat melahirkan masih tinggi.

Di Banyumas, jumlah ibu hamil pada 2017 sebanyak 25 ribu orang, terdiri dari risiko tinggi 5.000 orang. Adapun kematian ibu hamil 23 orang. “Inovasi ini berawal dari keprihatinan masih tingginya angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir,” katanya di Banyumas, Senin (9/12). 

Menurut dia, masih tingginya angka kematian ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan memantik Puskesmas Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah berinovasi membuat sebuah aplikasi untuk mengurangi risiko kematian ibu dan anak, Saskia Gotak.

Aplikasi Saskia Gotak merupakan kependekan dari Smart Aplikasi Kesehatan Ibu dan Anak Go Zero Tak ada kematian Ibu dan Anak. Aplikasi ini mempunyai sistem integrasi data yang memungkinkan semua petugas kesehatan, di seluruh wilayah menginput data riwayat kesehatan ibu hamil yang diperiksanya.

Puskesmas Kebasen Berinovasi melahirkan aplikasi Saskia Gotak, untuk menekan angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir. (GATRA/Ridlo Susanto/ar)

“Saskia Gotak menembus top 99 kompetisi pelayanan publik. Tahun ini kita ada empat yang tembus 99 besar,” jelasnya.

Lewat aplikasi ini, pemantauan ibu hamil juga lebih mudah karena bisa diisi oleh petugas posyandu, bidan, dokter dan lintas sektor lainnya. Tak hanya petugas kesehatan, kepala desa, camat maupun pejabat publik lainnya pun bisa memantau kondisi ibu hamil lewat aplikasi ini.

Sementara, Admin Server Saskia Gotak, Endri mengatakan, mengatakan tiga faktor utama tingginya angka kematian adalah faktor geografis, kurangnya kelengkapan informasi kesehatan ibu hamil, dan ketiga belum optimalnya keterlebitan lintas sektor lantaran ketiadaan informasi akurat mengenai ibu hamil.

“Paritisipasi lintas sektoralnya, seperti kecamatan dan kepala desa sangat kurang. Karena apa? Karena mereka tidak tahu ada berapa jumlah ibu hamil di wilayah saya, ada berapa restinya, dan bagaimana kondisinya, itu mereka tidak tahu,” ucap Endri.

Dia mengemukakan, Kecamatan Kebasen berada di wilayah yang didominasi perbukitan dengan akses jalan yang cukup sulit dan jauh dari faskes. Untuk menekan angka kematian ibu dan anak butuh dukungan semua sektor, mulai kesehatan, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian dan lain sebagainya.

Itu sebab, aplikasi ini menggabungkan semua komponen itu untuk mengintensifkan pemantauan ibu hamil, terutama mendekati hari perkiraan lahir (HPL).

1323