
Jakarta, Gatra.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku saat ini pemerintah sedang mencari peluang dari trade war atau perang dagang.
Kesempatan itu bisa datangnya dari kemampuan untuk menarik investasi dan bisa pula dengan menggunakan pasar regional maupun pasar global untuk ekspor.
"Itu juga salah satu cara untuk menyelesaikan fundamental Indonesia tentang daya saing dan produksi," kata Sri Mulyani saat menjadi Keynote Speech di acara Indef, dengan tema Tantangan Investasi di Tengah Kecamuk Perang Dagang, di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (16/7).
Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, daya saing dan produksi sangat tergantung kepada manusianya. Pendidikan dan pelatihan menjadi syarat yang penting.
Selain itu, lanjutnya, daya saing dan produksi tergantung pada kualitas infrastrukturnya. Untuk itu, infrastruktur harus dibangun.
"Karena Indonesia tidak hanya Jakarta, tidak hanya Jawa. Ini kita sedang membangun konektivitas. Karena itu, kita harus kerja extra keras," ungkapnya.
Menkeu juga mengatakan daya saing dan produksi juga bergantung kepada inovasi dan riset. Pemerintah membuat policy riset dan inovasi dengan menggunakan instrumen fiskal.
Di samping itu, kata Sri Mulyani, daya saing dan produksi bergantung pada kualitas birokrasi, apalagi ada arahan presiden yang ingin mereformasi birokrasi.
"Empat hal inilah yang akan terus kita lakukan dalam meningkatkan kualitas dan mutu perekonomian Indonesia," katanya.
Sri Mulyani menambahkan bahwa pada saat yang sama Pemerintah juga tetap akan fokus mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan.
"Di sini kita akan menggunakan instrumen policy yang ada. Makro, moneter, kemudian perbankan, sektor keuangan. Hingga, kebijakan yang sifatnya struktural seperti kebijakan perdagangan, investasi, birokrasi, perizinan dan lain-lain," tambahnya.