spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
SEHAT
spacer
 
Resensi
Berbagi Pengalaman Mengatasi Baby Blues

Sampul buku Oh, Baby Blues (Dok mamieksyamil)Jakarta, 13 Juni 2007 18:40
Judul buku : Oh, Baby Blues
Penyusun : Mamiek Syamil dan Dina Sulaeman
Jumlah halaman: 125
Penerbit : Femmeline, Bandung, 2007

"Saya sudah menyusuinya sampai kenyang. Kemudian dia menangis karena mengompol. Lalu saya ganti popoknya. Belum lagi menukar baju saya yang basah kena ompol, tiba-tiba dia menangis lagi. Ngompol lagi! Saya letih dan sedih sekali. Apakah hidup saya hanya untuk mengurusi bayi? Padahal sebelumnya saya punya karier," kenang Sophie Navita, presenter di sejumlah televisi swasta nasional kepada Kompas.

Sementara itu sang suami, Pongki Jikustik, sedang konser di luar kota. "Dikelilingi gadis-gadis dengan tubuh segini," kata Sophie, sambil menunjukkan kelingkingnya. "Sementara, bobot dan bentuk tubuh saya belum kembali seperti dulu," keluhnya. Kesedihan dan kecemasan Sophie, saat mengurus anaknya yang baru lahir itu disebut sebagai baby blues. Berdasarkan penelitian, sindrom ini dialami 50 sampai 80 persen wanita yang baru melahirkan anak pertama mereka.

Sophie Navita tidak sendirian. Ada sejumlah ibu yang baru melahirkan mengalami hal serupa. Seperti kisah sejati 15 orang ibu dan seorang ayah Indonesia, yang tinggal di Tanah Air dan di luar negeri. Mereka menuangkannya dalam buku berjudul Oh, Baby Blues terbitan Femmeline, yang disusun Mamiek Syamil (tinggal di Arkansas, AS) dan Dina Sulaeman (Teheran, Iran).

Ke-15 ibu yang mengalami masa "naik-turun" dalam mengurus bayi, dan berbagi pengalamannya itu, masing-masing Mindasari P. Daniar, Ria R. Williams, Shanti Saptaning, Wiwit Wijayanti, Mamiek Syamil, Beby Haryanti Dewi, Sylvie Gill, Dinda Bestari, Lely S. Shim, Andi Sri Suriati Amal, Cahayahati, Meidya Derni, Ummu Annisa, Susi Dwiyani, dan Dina Sulaeman, serta seorang ayah, Otong Sulaeman --suami Dina.

Apa itu baby blues?

Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam pengantar buku itu, menyebut ciri-ciri seseorang yang terkena sindrom baby blues. "Jika beberapa hari setelah melahirkan anda merasa ada perubahan emosi yang cepat, sebentar sedih dan tak lama kemudian senang, maka besar kemungkinan anda sedang mengalami apa yang sering disebut baby blues."

Keadaan itu, menurut Elly, normal terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan, sebagai bagian dari tahap awal menjadi ibu. Namun Elly menambahkan, keadaan ini akan dialami selama tiga sampai empat hari setelah melahirkan, dan menghilang sekitar sepuluh hari kemudian.

Menurutnya, jika gejala yang dirasakan lebih parah dan bertahan untuk waktu yang lebih lama, itu berarti sudah memasuki gejala pospartum atau postnatal depression (depresi pasca-melahirkan).

Masalah berapa lama seseorang mengalami depresi pasca-melahirkan, kata Elly, kondisinya bisa berbeda-beda. Ada orang yang terbiasa mengatasi depresinya dalam beberapa minggu, ada pula yang hingga berbulan-bulan.

Untuk itu, diperlukan dukungan yang tulus dan penuh kesadaran, khususnya dari para suami, agar sesegera mungkin beban yang menghimpit para ibu muda itu lepas. Seperti dilakukan Otong Sulaeman, yang bekerja di IRIB seksi Radio Indonesia, Teheran, dalam tulisannya berjudul Kerikil Tajam di Awal Langkahku Sebagai Ayah. Otong, selain total mendampingi istrinya di hari-hari awal setelah ia melahirkan, juga berani mengambil keputusan drastis: melepaskan kuliah S2-nya, demi menyelamatkan sang anak.

"Dia butuh kasih sayang ibunya. Namun kini ibunya sedang dalam kondisi tertekan, sehingga belum bisa mengungkapkan kasih sayang itu," tulis Otong, yang meminta bantuan seorang psikolog untuk membantu memulihkan kondisi emosi istrinya itu.

Para ibu muda yang tangguh itu juga berbagi kiat mengatasi baby blues yang mereka alami, seperti kiat Wiwit Wijayanti, ibu satu anak yang tinggal di Yogyakarta, bahwa kelahiran bukan sebatas mempersiapkan biaya persalinan dan membeli barang-barang keperluan bayi saja. Guna membekali diri, para ibu disarankan menggali informasi tentang kehamilan dan kelahiran, sebanyak mungkin.

Selain itu, Dina Sulaeman, ibu dua anak yang tinggal di Teheran, Iran, menyarankan agar para ibu tak ragu untuk melepaskan semua uneg-uneg dan perasaan tak nyaman. "Tidak perlu ditahan dan dipendam. Keluarkan semua emosi (tangisan, amarah, atau apa pun) dengan cara yang sehat. Tariklah napas dalam-dalam sebelum melepas emosi," pesannya.

Dan terpenting, katanya, mengucapkan "alhamdulillah" atau rasa syukur sesering mungkin, untuk mengingatkan bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, dan kelelahan yang dialami ibu, semuanya tak ada artinya dibanding nikmat berupa karunia anak yang sehat dan lucu.

Buku yang dikemas dalam sampul menarik ini lengkap menampilkan berbagai pengalaman menghadapi sindrom baby blues dan depresi pasca-melahirkan. Kisah-kisah yang dibagi lewat buku ini bisa menjadi sarana pembelajaran, bukan saja bagi mereka yang akan atau baru melahirkan, melainkan juga bagi para suami, seluruh anggota keluarga, termasuk perempuan lajang yang kelak bakal melewati periode sebagai ibu. [Tian Arief]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 09 February 2010 >>
SuMTW ThFSa
dot123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer